Tuhan yang Terpenjara (TyT) Diapresiasi di Palembang
Mas Ratno Mahdi Harris, yang oleh kawan-kawan FOSI Palembang biasa disebut Abi, malam itu Jumat 7 Nopember 2008, menelpon saya. Secara pribadi sebenarnya saya belum kenal beliau. Kabarnya beliau adalah jebolan FOSI Semarang.
Tapi malam itu beliau bersusah payah mengontak kawan-kawan FOSI Semarang, di antaranya kepada Mas Choiruddin, meminta informasi tentang saya, termasuk nomer HP saya.
Ada apa gerangan? Ah, ternyata beliau merasa surprise ketika kawan-kawan FOSI Palembang “menemukan” buku “TyT” di rak buku baru Gramedia Palembang, sebuah toko buku paling besar dan prestisius di kota Palembang.
Mungkin beliau tidak akan surprise jika buku “TyT” tidak ada sangkut pautnya dengan FOSI, bukan saja judulnya “Tuhan yang Terpenjara – Relasi Misterius Tuhan, Alam, dan Manusia” yang terasa langsung “on” atau “nyambung” dengan alam bawah sadar kefosian, melainkan juga penulisnya yang (berani-beraninya) mengaku sebagai aktivis FOSI dan buku yang ditulisnya diakui terinspirasi oleh materi FOSI.
Kata Mas Ratno bukunya keren abis dan dibeli oleh para instruktruk FOSI Palembang dan sedang didiskusikan.
Malah, Mas Ratno mengaku jika adrenalinnya terasa tertantang oleh buku itu sekaligus memberi inspirasi beliau untuk mencoba menulis buku semacamnya, misalanya dengan judul “Tuhan yang Teraniaya”. Haa … ada ada saja Mas Ratno.
Bersamaan dengan telpon-telpoan dengan Mas Ratno, masuk pula SMS dari Mas Choiruddin FOSI Semarang: “Asslm… Selamat atas diterbitkannya buku “TYT” mas Fatoni. Temen2 semarang”
Juga ada SMS dari Ustdaz Jon Hariadi FOSI Malang “Ass, yo opo rek? Sampe kangan aku. Kabare kanzun yo opo? Produk perdana kemarin gmn?”
Tapi, ketika kabar diapresiasinya “TyT” oleh kawan FOSI Palembang saya SMS-kan pada Mas Yudha FOSI Batam, eh agak kaget juga sebab katanya buku TyT belum bisa dicari di Batam.
Terima kasih atas respon, apresiasi, dan dukungan kawan-kawan FOSI. Semoga TyT bermanfaat!
Salam







“Buku ini menyodorkan formula penting, bahwa kebahagiaan sangat terkait dengan capaian spiritualitas seseorang. Buku ini penting dibaca di tengah kegersangan jiwa bangsa Indonesia oleh terpaan badai hedonisme.” 






