Sambutan Buku Tuhan yang Terpenjara (TyT)

Tuhan yang Terpenjara (TyT) Diapresiasi di Palembang

Mas Ratno Mahdi Harris, yang oleh kawan-kawan FOSI Palembang biasa disebut Abi, malam itu Jumat 7 Nopember 2008, menelpon saya. Secara pribadi sebenarnya saya belum kenal beliau. Kabarnya beliau adalah jebolan FOSI Semarang.

Tapi malam itu beliau bersusah payah mengontak kawan-kawan FOSI Semarang, di antaranya kepada Mas Choiruddin, meminta informasi tentang saya, termasuk nomer HP saya.

Ada apa gerangan? Ah, ternyata beliau merasa surprise ketika kawan-kawan FOSI Palembang “menemukan” buku “TyT” di rak buku baru Gramedia Palembang, sebuah toko buku paling besar dan prestisius di kota Palembang.

Mungkin beliau tidak akan surprise jika buku “TyT” tidak ada sangkut pautnya dengan FOSI, bukan saja judulnya “Tuhan yang Terpenjara – Relasi Misterius Tuhan, Alam, dan Manusia” yang terasa langsung “on” atau “nyambung” dengan alam bawah sadar kefosian, melainkan juga penulisnya yang (berani-beraninya) mengaku sebagai aktivis FOSI dan buku yang ditulisnya diakui terinspirasi oleh materi FOSI.

Kata Mas Ratno bukunya keren abis dan dibeli oleh para instruktruk FOSI Palembang dan sedang didiskusikan.

Malah, Mas Ratno mengaku jika adrenalinnya terasa tertantang oleh buku itu sekaligus memberi inspirasi beliau untuk mencoba menulis buku semacamnya, misalanya dengan judul “Tuhan yang Teraniaya”. Haa … ada ada saja Mas Ratno.

Bersamaan dengan telpon-telpoan dengan Mas Ratno, masuk pula SMS dari Mas Choiruddin FOSI Semarang: “Asslm… Selamat atas diterbitkannya buku “TYT” mas Fatoni. Temen2 semarang”

Juga ada SMS dari Ustdaz Jon Hariadi FOSI Malang “Ass, yo opo rek? Sampe kangan aku. Kabare kanzun yo opo? Produk perdana kemarin gmn?”

Tapi, ketika kabar diapresiasinya “TyT” oleh kawan FOSI Palembang saya SMS-kan pada Mas Yudha FOSI Batam, eh agak kaget juga sebab katanya buku TyT belum bisa dicari di Batam.

Terima kasih atas respon, apresiasi, dan dukungan kawan-kawan FOSI. Semoga TyT bermanfaat!

Salam

Resensi “Bahagia …” oleh Surabaya Post

Resensi di harian sore Surabaya Post
Minggu, 28 September 2008 | 10:19 WIB

Judul buku : Bahagia Tanpa Menunggu Kaya, 5 Jurus Ampuh Meraih Kebahagiaan Penulis : Awang Surya Penerbit : Kanzun Books Cetakan : I, Agustus 2008 Tebal : 204 halaman Peresensi : Siska Prestiwati W.

Pandang Bahagia dari Sudut Berbeda

Peradaban industri modern telah menggeser paradigma masyarakat akan arti kebahagiaan. Pesatnya kemajuan ilmu pengetahuan dan informasi, membuat orang berfikir kebahagiaan akan dapat diraih bila dia memiliki harta yang berlimpah dan menjadi kaya. Memiliki banyak uang, berarti dia bisa ke mana saja berkeliling dunia dan bisa membeli apa saja yang diinginkan. Apakah dengan berkeliling dunia dan memiliki semua yang diinginkan adalah sebuah kebahagiaan?

Awang Surya melalui buku terbarunya, Bahagia Tanpa Menunggu Kaya, memberikan gambaran untuk bisa meneguk kebahagiaan, harta atau kekayaan tidaklah menjadi syarat mutlak. Pria asal Lamongan ini tidak mengatakan bahwa berkeinginan menjadi kaya adalah sebuah dosa. Namun yang perlu dicermati adalah dampak dari kekayaan itu sendiri. Apakah kekayaan tersebut berdampak positif yang bisa mengantarkan ke sebuah kebahagiaan hakiki. Atau justru mengantarkan pemiliknya ke dampak yang negatif, sehingga menyebabkan pemiliknya hanya merasakan kebahagiaan semu.

Penulis yang juga seorang trainer ini mencoba memberikan 5 jurus Ampuh Meraih Kebahagiaan yang dikemas dalam bahasa sederhana, lugas dan populer sehingga memudahkan pembaca dalam mencernanya. Selain dibungkus dalam bahasa yang enak dibaca, penulis juga memberikan contoh-contoh yang menyertai setiap paparan. Contoh yang diberikan sangat dekat dengan kehidupan kita karena setiap contoh yang dipaparkan Awang diambil dari kenyataan yang terjadi di lapangan. Beragam kisah sarat dengan hikmah, dapat memperkaya asupan gizi jiwa kita yang kering dan gersang di tengah derasnya arus hedonis-materialis.

Banyak Cara menuju Bahagia Banyak cara menuju Roma, begitupun juga untuk menuju kebahagiaan. Awang mencoba memberikan cara lain untuk meraih kebahagiaan tanpa harus merogoh kocek yang terlalu dalam. Sedikitnya ia menawarkan 5 jurus ampuh yang bisa mengantarkan pembaca untuk meneguk kebahagiaan bila mau mencoba mempraktikkannya. Kelima jurus tersebut adalah bersyukur, banyak memberi, cinta sesama, tersenyum, dan senang memaafkan.

Bersyukur dan mensyukuri segala nikmat yang telah diberikan Allah, merupakan jurus pertama yang coba dipaparkan. Allah sudah berjanji, barang siapa mensyukuri nikmatnya, maka Allah akan terus menambah nikmat tersebut. Di belakang kata bersyukur, Awang menambahkan kata aktif.

Yang artinya, bersyukur tidak hanya berhenti pada tahapan mengucapkan syukur saja. Tetapi diteruskan pada tindakan aktif yang mencerminkan kata syukur tersebut. Misalnya, seseorang telah diterima bekerja di sebuah perusahaan yang selama ini telah dia idam-idamkan. Maka, Awang menerangkan orang tersebut tidak cukup mengucap syukur karena telah diterima. Tetapi kata syukur tersebut diwujudkan lewat etos kerja dia. Agar perusahaan tempat dia bekerja dapat semakin berkembang dan mengalami keuntungan sehingga keuntungan perusahaan tersebut akan banyak membantu orang.

Jurus ampuh kedua adalah banyak memberi. Seperti halnya jurus pertama, pada jurus kedua ini Awang juga menambahkan kata aktif. Di sinilah kepiawaian penulis dalam menggambarkan sebuah kata sangat terlihat. Penulis memberikan ilustrasi yang apik, bahwa ketika kita memberi pada dasarnya kita telah membuka ruang untuk masuknya sesuatu yang baru. Sekali kali, Awang mengingatkan agar setelah memberi kita harus melupakannya.

Agar, kita tidak menghitung-hitung kebaikan yang telah kita lakukan. Sebab, kebaikan yang telah kita lakukan belum tentu diterima oleh Allah SWT. Awang kembali mengingatkan Allah tidak pernah tidur dan tidak akan pernah lalai untuk mencatat segala kebaikan dan kejahatan yang dilakukan oleh hambanya walau sekecil debu sekalipun.

Jurus untuk meraih kebahagiaan selanjutnya adalah mencintai sesama, selalu tersenyum dan senang untuk memaafkan. Ketiga jurus terakhir merupakan jurus ampuh dalam menjalakan fungsi kita sebagai makhluk sosial. Kedamaian antar umat akan terwujud bila masing-masing individu berusaha untuk selalu mencintai dan tolong menolong kepada sesama. Senyum, merupakan ibadah yang murah namun bisa mendatangkan pahala yang banyak.

Sebab, dengan senyum akan dapat menebarkan aroma persahabatan, perdamaian yang akan mengantarkan kita kepada rasa bahagia. Senang untuk memaafkan, karena dengan meminta maaf dan memaafkan akan bisa mengurangi beban yang memberatkan jiwa. Rasa marah merupakan tekanan yang hebat di dalam jiwa, bila rasa marah tersebut dipendam, akan menimbulkan penyakit jiwa. Penyakit jiwa hanya bisa dihilangkan dan disembuhkan dengan keikhlasan untuk memaafkan kesalahan orang lain.

Kalau kita jeli, lima jurus yang telah disebut di atas merupakan muara dari kebesaran jiwa. Terpapar jelas, untuk bisa mendapatkan sebuah kebahagiaan tidak perlu biaya yang mahal. Dengan kata lain, tidak perlu menunggu kaya untuk bisa merasakan bahagia. Cukup dengan hati dan lapang dada mempraktikkan lima jurus ampuh yang merupakan perwujudan hablumminallah dan hablumminannas.

Yang perlu diingat untuk bisa merasakan bahagia, adalah bagaimana kita mengelola emosi kita ketika berinteraksi dengan sesama dalam setiap aktivitas. Sehingga, apa yang kita lakukan dapat memendarkan energi positif yang tidak hanya dapat dirasakan oleh kita sendiri, tetapi juga kepada lingkungan di sekitar kita. Selamat berburu kebahagiaan!.(*)

Peresensi adalah wartawan Surabaya Post

Versi asli bisa diklik di www.surabayapost.co.id/?mnu=berita&act=view&id=c3e878e27f52e2a57ace4d9a76fd9acf

Resensi “Bahagia ..” oleh suarasurabaya.net

resensi buku 26 September 2008, 15:06:40, Laporan Noer Soetantini

Bahagia Tanpa Menunggu Kaya

suarasurabaya.net| Judul Buku : Bahagia Tanpa Menunggu Kaya
Penulis : Awang Surya
Penerbit : Kanzun Books
Tebal : 204 Halaman

Menjadi kaya memang enak. Jika Anda kaya, Anda dapat tidur di hotel berbintang lima, terbang di kursi eksekutif, mengendarai mobil mewah, memakai baju bermerek dan mewariskan kekayaan Anda pada anak cucu. Banyak orang Indonesia sekarang ini ingin kaya dalam sekejap dan cara menjadi kaya kurang dipedulikan.

Namun hal mendasar yang perlu kita tanyakan, apakah orang kaya hidupnya bahagia ? Kebahagiaan ternyata dapat diperoleh dengan berbagai cara dan kekayaan bukan satu-satunya cara untuk mencapai kebahagiaan. Penulis akan mencoba membuka wawasan kita tentang kebahagiaan dan juga menuntun kita untuk mencoba mencapai kebahagiaan. (Prof Dr dr Samsuridjal Djauzi Guru Besar Penyakit Dalam FK-UI)

Sinopsis :
Keinginan untuk bahagia, menurut penulis buku ini, adalah kehendak Tuhan yang dititipkan ke dalam hati kita. Oleh karena itu semua orang pasti menginginkan hidup bahagia.

Dalam buku bahagia tanpa menunggu kaya, penulis mengawali dengan memaparkan arti kebahagiaan yang hakiki berdasarkan wawasan yang dimiliki dan landasan dari beberapa agama mulai dari Islam sampai Hindu.

Untuk menjabarkan kebahagiaan itu sendiri, penulis memberikan 5 jurus ampuh menuju kebahagiaan. Lima jurus ampuh itu yakni bersyukur, perbanyaklah memberi, cintailah sesame, tersenyumlah dan jadilah pemaaf. Jika lima jurus ini dilaksanakan, kebahagiaan itu akan datang tanpa harus menjadi kaya lebih dulu.

Misalnya saja dari jurus “tersenyumlah”. Penulis menilai senyum satu diantara karunia Tuhan yang ajaib. Semua orang bisa memberikan senyuman, tidak perduli dia kaya atau pun miskin, tak peduli dia berpendidikan rendah atau tinggi. Senyum adalah tindakan kecil yang punya dampak besar. Dan yang lebih hebat lagi senyum bisa memberikan pengaruh positif kepada orang yang memberi dan yang menerima.

Menurut penulis, ketika kita memberikan senyum kepada seseorang, kita memberikan kebahagiaan kepada mereka tanpa mengurangi sesuatu yang kita miliki. Dan pada saat itu pula kita mendapat balasan minimal dua kebahagiaan yang bersamaan yakni kebahagiaan karena kita tersenyum dan kebahagiaan karena orang lain membalasnya juga dengan tersenyum, halaman 143.

Deskripsi :
Buku ini mengajak kita merenungkan arti kebahagiaan dan juga menuntun kita untuk mencoba mencapai kebahagiaan sekaligus melaksanakannya. Pasalnya, lima jurus yang disajikan penulis, sebenarnya tidak sulit dilakukan oleh siapa saja. Tapi hasilnya, bisa dirasakan setelah menjalankan kelima jurus tersebut. Anda akan merasakan kebahagiaan setiap saat tanpa harus menunggu kaya lebih dulu. Artinya, meskipun Anda sudah kaya, ini sebuah nilai tambah, sudah kaya bahagia pula.

Buku ini bisa dibaca oleh siapa saja dan banyak memberikan manfaat untuk menjalani kehidupan yang semakin keras ini. Anda ingin bahagia sekarang, mulailah dengan membaca buku ini.

Versi asli klik di

http://www.suarasurabaya.net/v05/resensibuku/?id=1b843893c91e6da69fdf2cac5a386789200856994

Pintu-Pintu Menuju Bahagia

Resensi pada Rubrik “Buku” Majalah MATAN, Oktober 2008

Cover Majalah MATAN

Cover Majalah MATAN

Suatu hari seorang eksekutif muda yang tinggal di kota besar sedang berlibur ke suatu desa yang tenang dan damai. Dia hendak melupakan panas, macet dan hiruk-pikuk kota yang sehari-hari menemaninya. Salah satu kegiatan yang dilakukan untuk mengisi liburannya adalah memancing di danau yang ada di pinggirandesa itu.

Di samping eksekutif muda itu, ada seorang penduduk desa yang juga sedang memancing. Sambil memancing, eksekutif muda itu ngobrol dengan penduduk desa tersebut.

“Berapa ikan yang biasanya Bapak dapat tiap hari?” orang kota itu mengawali obrolan.

“Tidak banyak Mas, empat sampai lima ekor sudah cukup, “ jawab penduduk desa itu.

Kok sedikit sekali, Pak. Bukankah danau ini banyak ikannya?”.

“Saya memang memancing hanya untuk kebutuhan makan keluarga saya Mas.”

“Lho, mengapa Bapak tidak ingin mendapat ikan lebih banyak, kan sisa dari yang dimakan bisa Bapak jual? Dan uangnya bisa Bapak tabung?”

“Menabung? Untuk apa Mas?”

“Ya, nanti kalo tabungan Bapak sudah cukup banyak, Bapak bisa gunakan apa saja. Bapak bisa melakukan kegiatan-kegiatan yang Bapak suka. Berlibur misalnya.”

Penduduk desa itu terdiam mendengar penjelasan eksekutif muda.

“Bapak lihat saya sekarang. Saya bisa berlibur, bersantai, bersenang-senang, menikmati suasana desa, dan memancing di sini. Saya bisa melakukan itu semua karena saya punya uang banyak,” lanjut eksekutif muda itu.

“Mas, kalo hanya yang seperti ini mah saya sudah melakukannya setiap hari, walaupun saya nggak punya uang banyak.”

Tidaklah berlebihan bila kisah di atas dijadikan sebagai pembuka buku ini untuk menggali arti dan makna bahagia. Rasa bahagia memang telah menjadi keinginan absolut setiap individu. Meski untuk itu, mereka harus mengorbankan be­berapa hal yang diyakini sebagai prasyarat untuk menggapai kebahagiaan itu.

Eksekutif muda pada kisah di atas, misalnya, bekerja keras setiap hari, untuk mencari uang sebanyak mungkin. Sebaliknya, penduduk desa itu mampu bersantai menikmati kehidupan sepanjang hari meski tanpa bergelimang uang.

Dari dua orang itu, siapakah yang patut diikuti agar bahagia? Patut disayangkan jila masih banyak orang yang keliru dalam memaknai kebahagiaan. Banyak orang tua yang tersesat dalam memberi makna kebahagiaan bagi anak-anaknya, yakni bahwa kebahagiaan hanya terwujud karena kekayaan materi, pangkat dan jabatan, atau popularitas.

Rubrik "Buku" MATAN

Rubrik "Buku" MATAN

Buku karya Awang Surya ini memberikan resep untuk menggapai kebahagiaan dengan tanpa menunggu kaya. Menurut Awang, sangat banyak pintu kebahagiaan yang bisa dimasuki oleh setiap pribadi dengan tanpa bermodalkan hal-hal yang bersifat material.

Paling tidak ada 5 cara. Pertama, se­lalu mensyukuri setiap sesuatu yang telah diterima. Kedua, mengaktifkan kemauan un­tuk memberi, selaras dengan pepatah ’siapa yang menabur pasti menuai’. Ketiga, cin­tailah sesama, karena cinta adalah energi penggerak dari semua aktivitas manusia.

Keempat, tersenyum­lah, karena menurut hadits “senyumanmu di hadapan saudaramu adalah sedekah“. Dan kelima, jadilah pemaaf. Karena, “hanya orang kuat yang mampu memaafkan orang lain,” kata Mahatma Gandhi.

Buku ini memang menarik karena menawarkan jalan baru untuk merentas kebahagiaan. Melalui buku ini, Awang Surya hendak menyampaikan pesan tentang bagaimana kita mampu mengelola hidup, emosi, serta pikiran melalui berbagai jurus, agar hidup ini menjadi bahagia, dengan tanpa harus menunggu kaya. Karena itu, siapa pun yang ingin menghimpun sebagian pintu-pintu menuju bahagia, tidak berlebihan bila dikatakan bahwa buku ini merupakan salah satu referensi penting yang harus dimiliki.

Abdurrahman Mantan Ketua PC IMM Gresik

Ciptakan Bahagia dengan Ubah Cara Pandang

Dari Training Keluarga Sakinah “Bahagia Tanpa Menunggu Kaya”

Liputan Tabloid NURANI No. 403 Tahun VII Minggu IV September 2008

Tahukah Anda, bahwa baha­gia sebenarnya bisa kita ciptakan setiap saat? Dengan sedikit men­gubah cara pandang, maka Anda akan bisa menikmati kebahagia­an meski tidak bergelimang har­ta. Demikian kesimpulan Train­ing Keluaga Sakinah sekaligus launching buku Bahagia Tanpa Menunggu Kaya di Royal Plaza Surabaya.

MEMILIKI keluarga sakinah tentu impian setiap umat Islam. Karena itulah NURANi menggelar Training Keluarga Sakinah. Ber­tempat di NURANI Moslem Gal­lery pada Minggu (14/09) lalu, training mengusung tema “Baha­gia Tanpa Menunggu Kaya”.

Tidak mudah memang untuk membangun keluarga yang saki­nah, mawadah, wa rahmah. Na­mun bukan berarti tidak bisa di­wujudkan. Bahkan kebahagiaan itu bisa dicapai meskipun tanpa limpahan materi.

Acara ini mendatangkan dua orang narasumber. Yaitu Ustad H Abdul Aziz beserta Ustad Awang Surya, konsultan keluarga. Train­ing kali ini dibagi dua sesi. Per­tama mengenai konsep keluarga sakinah yang dibawakan oleh Ustad H. Abdul Aziz. Dan sesi kedua adalah konsep kebahagiaan yang disampaikan oleh Ustad Awang Surya yang merupakan penulis buku Bahagia Tanpa Menunggu Kaya.

Menurut Ustad Abdul Aziz, se­tiap keluarga muslim pasti mam­pu menciptakan keluarga yang sakinah. Hanya Baja, dibutuhkan usaha untuk mewujudkannya. Dan usaha ini harus dilakukan baik oleh suami maupun istri. Karena mustahil tercapai sakinah bila yang menginginkannya hanya salah satu pasangan. “Yang harus kita ubah sekarang adalah per­sepsi kita tentang keluarga saki­nah,” ujar Ustad Abdul Azis yang juga trainer salat khusyuk itu.

TIPS BERBAHAGIA

Dan kunci sakinah adalah tim­bulnya kebahagiaan dalam rumah tangga. Dan untuk menciptakan kebahagiaan, diperlukan usaha yang lebih besar lagi. “Bahagia memang yang diperjuangkan,” ujar Awang. Karena itulah di awal ketika dia memberikan materi, bapak dua anak ini minta kepada pars peserta untuk mendefinisi­kan kebahagiaan.

Hasilnya ternyata beragam, namun substansi dari urusan tersebut ternyata sama. Yaitu kondisi lapang dada terhadap segala ketentuan Allah. Dan un­tuk mencapai pada kondisi ini, adalah dengan melakukan lima tips. Yaitu dengan positif think­ing, bersyukur, memperbanyak memberi kepada orang lain, mencintai sesama manusia, dan memaafkan orang lain.

“Agar bisa positive thinking, kita harus melihat sesuatu dari sudut yang lain, bukan dari sudut biasanya,” ujar Awang. “Misal­nya ketika suami dan anak-anak membuat berantakan rumah, padahal istri susah payah merapi­kannya, istri jangan marah, tetapi lihat dari sudut lain, bahwa den­gan begitu keluarga bisa bersatu,” ungkapnya.

Menurut Awang, istri akan lebih bahagia dengan kondisi itu daripada rumah rapi, tetapi suami dan anak tidak pulang ke rumah lagi. “Mulai dari sekarang, ubah cara pandang kita agar bisa lebih berbahagia,” ujarnya. 004-mah

Resensi Tuhan yang Terpenjara di suarasurabaya.net

19 September 2008, 16:02:56, Laporan Noer Soetantini

Tuhan yang Terpenjara

suarasurabaya.net

| Judul buku : Tuhan yang Terpenjara
Penulis : Mohammad Nurfatoni
Penerbit : Kanzun Books
Tebal : 156 halaman
 

 

Tuhan yang terpenjara, menunjukkan adanya relasi yang tidak benar antara manusia dan Tuhan. Sebagai Sang Pencipta, mestinya Tuhan yang berhak ‘memenjara’ ciptaan-Nya. Artinya, Tuhan-lah sebenarnya yang menjadi subyek dalam kehidupan ini. Dia berhak mengatur ciptaan-Nya dengan seperangkat sistem nilai, baik yang berupa hukum kauniyah (hukum alam, yang tidak tertulis) maupun kauliyah (hukum sosial yang tertulis).
Namun yang terjadi justru, manusia sebagai satu diantara ciptaan-Nya, malah ‘memenjarakan’ Tuhan. Memenjarakan di sini tidak dalam pengertian fisik melainkan membatasi wilayah kekuasaan Tuhan yakni persoalan-persoalan sacral atau pada tempat-tempat suci saja. Di luar wilayah itu, menjadi wewenang manusia. (Penulis)
Sinopsis :

Jika orang beriman, dia akan sangat ikhlas ‘dipenjara’ oleh nilai-nilai yang bersumber dari Tuhan, maka orang sekadar percaya kepada Tuhan yang justru ‘memenjarakan’ Tuhan. Buku ini akan mengajak Anda menjelajah ke ruang logika dan spiritual dengan topic-topik menarik , antara lain , Anti Tuhan (palsu), Kultus Menjelma Tuhan, Tuhan Sang Pengintai, Tuhan kok Ditolong.
Misalnya dalam paparan Tuhan kok Ditolong, mungkin membaca sekilas muncul di benak kita, Tuhan kok ditolong ! Bagaimana mungkin, kita manusia yang serba nisbi, menolong Tuhan, wujud yang Mutlak itu. Sementara dalam doa-doa, justru kita yang berharap pertolongan Tuhan ?
Penulis mencoba menjelaskan bahwa ungkapan menolong Tuhan ternyata kita dapatkan dalam Al-Quran yakni “Hai orang-orang yang beriman, jika kamu menolong Allah, maka Dia akan menolong kamu dan akan mengukuhkan pijakan-pijakanmu” (Muhammad 47:7). Atau dalam ayat lain, “Sesungguhnya, Allah pasti menolong orang yang menolong-Nya”. (Al-Haj 22:40).

Yang dimaksud menolong Tuhan dalam konteks ayat di atas yakni manusia berusaha dengan penuh kesungguhan untuk melaksanakan ajaran-ajaran-Nya. Kalau ini dilaksanakan Tuhan akan kita dimana Dia akan membuat mudah usaha melaksanakan ajaran-ajaran-Nya dengan dampak kebaikan dalam hidup kita, halaman 46.

Deskripsi :
Buku ini sangat menarik bagi siapa yang ingin mendalami tentang keimanan. Pasalnya, menulis menyajikan topik-topik menarik dalam bahasa yang mudah kita pahami. Setiap topik yang dipaparkan, langsung dijelaskan sehingga tidak terkesan penulis menceramahi pembaca.

Dengan membaca buku ini, kita akan menjadi tahu apakah kita masuk kumpulan orang-orang yang ‘memenjarakan’ Tuhan atau sebaliknya. Kalau ingin tahu, simak buku yang memberikan pemahaman yang segar tentang Islam. Apalagi di bulan Ramadhan ini, hal yang positif dan dianjurkan untuk meningkatkan pemahaman kita soal Islam.

Selengkapnya bisa diklik di http://www.suarasurabaya.net/v05/resensibuku/?id=ce01d46a25537e5148fa365506c29d9c200856688

 

 

 

Komentar Tokoh pada Buku “Bahagia …”

 “Buku ini mengajak kita untuk merenungkan arti kebahagiaan dan juga menuntun kita untuk  mencoba mencapai kebahagiaan …  [sekaligus] menekankan bahwa setiap orang sebenarnya dapat berusaha mencapai kebahagian tanpa menunggu jadi kaya lebih dahulu.” 

Prof. Dr. dr. Samsuridjal Djauzi, SpPD(K), Guru Besar Tetap Ilmu Penyakit Dalam FKUI dan Pengasuh Konsultasi Kesehatan harian Kompas Minggu  

 

BAHAGIA TANPA MENUNGGU KAYA adalah sebuah pencapaian, hasil interaksi intelektual dan spiritual, di”sharing” dengan cara yang kreatif dan cerdas. Inspiratif.”

Prof. Zainal Arifin Achmady, Guru Besar Universitas Brawijaya Malang

 

Buku karya Awang Surya ini, mampu menyuguhkan cara atau jurus-jurus ampuh untuk mendapatkan kebahagiaan”

Ir. H. M. Lukman Edy, MSi. Menteri Negara Pembangunan Daerah

 

 

Buku ini menyodorkan formula penting, bahwa kebahagiaan sangat terkait dengan capaian spiritualitas seseorang. Buku ini penting dibaca di tengah kegersangan jiwa bangsa Indonesia oleh terpaan badai hedonisme.” 

Viva Yoga Mauladi, Msi, Wakil Sekjen DPP Partai Amanat Nasional

 

 

Sebuah ajakan untuk menjadi lebih baik yang disajikan dalam bentuk tulisan yang sederhana dan komunikatif namun mengena. Sebuah alternatif di tengah-tengah semakin tingginya kompleksitas permasalahan hidup dan hedonisme.”

Didik Suhardi S.H., M.Si, Direktur Pembinaan Sekolah Menengah Pertama, Depdiknas 

 

“Lama kita mengetuk pintu rumah kekayaan yang kita sangka di sana
kebahagiaan bersemayam. Sampai lelah, pintu tak kunjung terbuka. Sampai
kemudian mas Awang menghampiri dengan buku ini, menyentuh pundak dan
menyapa,’Mas…, Sampiyan mengetuknya dari dalam rumah’.
Semoga buku Sampiyan ini menjadi salah satu ejawantah dari khoirunnaas anfauhum linnaas


DARMAJI, S.Si.,M.T. Dosen Matematika ITS Surabaya

 

Lima Jurus Raih Bahagia

Surabaya, Surabaya Post (Senin, 15/9/09)

Awang Surya saat berbagi kita pada bedah buku di Toga Mas

Awang Surya saat berbagi jurus pada bedah buku di Toga Mas (foto Dhave-Khan)

Banyak jalan menuju kebahagiaan. Setidaknya, menurut Awang Surya, ada
lima jurus yang patut dicoba meraihnya. Kelima jurus itu, diabadikannya
lewat buku berjudul “Bahagia Tanpa Menunggu Kaya: 5 Jurus Ampuh Meraih
Kebahagiaan” yang dibedah di toko buku Toga Mas Sabtu (13/9).

Menurutnya, tak perlu menunggu kaya untuk bahagia. “Kita cuma perlu
bersyukur, banyak memberi, cinta sesama, tersenyum dan senang
memaafkan,” tukasnya. Dengan bersyukur, terangnya, Allah akan menambah
nikmat manusia. Salah satu wujud syukur tersebut, adalah dengan bekerja
sungguh-sungguh.

Awang pun mengajak kita untuk banyak memberi. Dengan beramal, katanya,
sama halnya kita telah membuka pintu rezeki bagi diri sendiri. “Allah
tidak tidur dan lupa terhadap amal kita. Walaupun yang kita lakukan
sangat kecil bentuknya,” ujarnya. Selain itu, agar bahagia, kita harus
selalu tersenyum dan senang memaafkan.

Sumber kebahagiaan, simpul Awang, sebenarnya ada pada kelapangan jiwa.
Bukan pada besar kecilnya harta yang dimiliki seseorang. “Kelima jurus
tersebut, adalah jalan rohani menuju kesalehan individu dan sosial,”
tandasnya. (k7)

Bisa di-klik versi aslinya di http://surabayapost.info/detail.php?cat=3&id=84127

Kliping liputan Surabaya Post

Kliping liputan Surabaya Post

Dari Bedah Buku Perdana Awang Surya

Berbahagia Dulu,

Kesenangan Bakal Datang

Awang Surya dalam peluncuran buku di Togamas

Awang Surya dalam peluncuran buku di Togamas

HETI PALESTINA YUNANI

(Liputan koran Radar Surabaya, hal 13,Minggu 13/9/2008)

Bahagia hanya bisa diciptakan sendiri, bukan dikejar.

Berdasar pengalaman mencari kebahagiannya sendiri,

Awang Surya menulis buku. Ada lima jurus bahagia yang diresepkan Awang dalam lima hal.

 

PERNAH melihat pelangi? Seperti itulah rasanya melihat kebahagiaan. Indah di me­reka, tapi tidak indah di kita. “Selalu itulah yang dirasakan manusia dengan apa yang dimiliki orang lain. Kita tidak mullah pugs. Padahal kita sendiri bisa jadi sudah mencapai kebahagiaan seperti yang orang lain punya,” demikian kata Awang Surya.

 

Bahagia memang sedang dibahas Awang secara intens. Maklum, itu debut pertama Awang menulis buku Bahagia Tanpa Me­nunggu Kaya, 5 Jurus Ampuh Meraih Keba­hagiaan. Peluncuran perdananya dilakukan kemarin di Toko Buku Toga Mas.

 

Kalau Awang menulis tentang kebaha­giaan, bukan karena Awang merasa dia lebih bahagia ketimbang siapa saja. Namun ketika memasuki usia 40 tahun ini, Awang merasa perlu menulis apa yang telah dialaminya itu untuk menformulakan kebahagiaan yang ia pahami. “Terus terang, ini berdasarkan penga­laman saya. Tepatnya terkait dengan enam kalinya saya melanglang dari suatu pekerjaan yang satu ke yang lain,” tutur penulis kelahiran Lamongan, 5 Februari 1968 ini.

 

Dari judulnya, Awang menjadikan kaya se­bagai salah satu barometer. Yang dia ketahui, ternyata tak harus menjadi kaya untuk bisa bahagia. Ternyata sangkaan orang bahwa kaya itu pasti mendatangkan kebahagiaan salah, atau paling tepatnya belum tentu. Bahkan semua kesenangan konon menjadi ukuran bahagia tidaknya seseorang, ternyata tidak juga. “Yang betul, bahagia lah dulu, maka semua kesenangan akan datang pada kita,” kata suami Emelia Fadlia ini.

 

Awang menemukan formula itu ketika ia menyangka jika bekerja di Batam usai kuliah di Teknik Mesin Universitas Brawijaya, ia bisa menjadi kaya dan bahagia. Memang betul, Awang bisa mendapatkan materi itu, namun ternyata bekerja di perusahaan itu menurutnya tak terlalu istimewa. Pun ketika ia merasa bahwa bekerja di perusahaan multinasional yang diinginkan banyak orang akan bahagia. Ternyata ketika ia masuk bekerja di Hitachi, bayangan yang enak-enak itu tetap membuat­nya dia merasa biasa saja. Selanjutnya hingga dia pindah pekerjaan sebanyak enam kali. “Semua perusahaan besar dengan gaji besar, tapi bahagia ternyata bukan itu,”‘ucap dia.

 

Kini, Awang yang menjadi Vice President General Affairs di PT Catur Elang Perkasa­ —pekerjaannya yang ketujuh ini—, tak lagi mengukur materi sebagai barometer bahagia. Ada lima hal yang bisa dipelajari dan diba­ginya kepada orang lain terkait bahagia. Pertama, bersyukur. Dengan bersyukur Allah akan menambah nikmat kita. Jurus kedua banyak memberi.Dengan memberi kita tak kehilangan justru membuka peluang hal lain kita terima. Ketiga, mencintai sesama. Keem­pat, tersenyum. Yang terakhir, pemaaf.

 

“Lima hal ini cukup membuat kita bahagia tiada tara,” Cetus bapak dua anak yang tinggal di Bogor ini. Meski sebagai muslim, resep itu ia ambil de­ngan melihat tuntunan Al Qur’an, na­mun Awang yakin jurusnya amat uni­versal dan bisa ditiru semua orang. Se­bab dalam semua agama, jurus itu se­mua menjadi tuntunan buat setiap umat.

 

Intinya, Awang yang aktif di Forum Studi Islam dan seorang trainer ini mencoba mendekonstruksi pandangan umum orang tentang bahagia.

 

Dalam bahasanya, Awang meresepkan bahwa bahagia tidak terletak pada sebe­rapa kekayaan yang kita miliki. “Jalan menuju kebahagiaan itu juga tak sesulit dan serumit yang kita bayangkan.’Tinggal bagaimana kita membalikkan cara pan­dang kita dengan hidup yang kita jalani sekarang, bukan nanti,” tandasnya. (*)

Kliping liputan Radar Surabaya

Kliping liputan Radar Surabaya

 

Pandang Bahagia dengan Cara Berbeda

Resensi Majalah “MUSLIM” (Surabaya), edisi September 2008.

Judul Buku: Bahagia Tanpa Menunggu Kaya, 5 Jurus Ampuh Meraih Kebahagiaan; Penulis: Awang Surya; Penerbit: Kanzun Books; Cetakan: I, Agustus 2008; Tebal: 204 halaman

Dalam masyarakat industri modern seperti saat ini, keberhasilan lebih dinilai dengan pencapaian materi. Kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi yang pesat membawa segala bentuk kemudahan bagi manusia. Secara ekonomi, masyarakat semakin kaya, segala sesuatu mudah didapat, urusan lancar dan teratur. Namun, apakah segala bentuk kemudahan tersebut membekaskan kebahagiaan kepada masyarakatnya? Belum tentu.

Herbert Marcuse dalam bukunya One Dimensional Man mengkritisi bahwa masyarakat industri modern adalah masyarakat yang tidak sehat. Mengapa? Karena segala segi kehidupannya diarahkan pada satu tujuan saja. Yakni keberlangsungan dan peningkatan sistem yang sudah ada yang tidak lain adalah kapitalisme.

Fakta memang menunjukkan adanya tingkat produktifitas tinggi membawa peningkatan taraf hidup bagi semakin banyak orang. Namun itu semua pada dasarnya hanya bagian luar saja dari sebuah keberhasilan karena menurut Marcuse, hal tersebut belum menyangkut hakekat kehidupan manusia seutuhnya. Masyarakat industri modern tetap merupakan masyarakat yang teralienasi karena mengasingkan manusia-manusia yang menjadi warganya dari kemanusiaannya.

Senada dengan fakta di atas, Erich Fromm dalam bukunya Masyarakat Yang Sehat menyajikan data bahwa negara-negara Eropa yang paling demokratis, kaya, serta Amerika Serikat sebagai negara terkaya di dunia justru menunjukkan simpton gangguan mental paling berat. Kemakmuran hidup di kelas menengah, meskipun kebutuhan material terpuaskan ternyata mewariskan rasa bosan yang mendalam sehingga bunuh diri dan alkoholisme merupakan cara-cara patologis untuk lari dari kebosanan tersebut.

Berdasarkan hal di atas bisa disimpulkan bahwa kekayaan tidak berbanding lurus dengan kebahagiaan. Meski itu tidak berarti kita tidak boleh kaya. Tidak ada yang melarang orang untuk menjadi kaya. Dampak dari kekayaan itulah yang harus dicermati. Apakah ia akan membawa pemiliknya ke arah yang positif atau bahkan sebaliknya.

Sejalan dengan itu Awang Surya meluncurkan buku Bahagia Tanpa Menunggu Kaya, 5 Jurus Ampuh Meraih Kebahagiaan ini. Buku yang akan mengajak kita kembali menengok sisi kemanusiaan kita. Sebuah sisi yang mungkin saja terlupakan karena padatnya jam kerja, berjubelnya agenda, dan kompleksitas permasalahan yang harus kita selesaikan. Buku yang akan menunjukkan kepada kita bagaimana memandang hidup dengan cara berbeda. Buku yang akan mengajak kita mengapresiasi kebahagiaan dalam arti yang sesungguhnya.

Penulis yang juga seorang trainer ini mendekonstruksi pandangan kita tentang arti bahagia. Bahwa kebahagiaan tidak terletak pada seberapa banyak kekayaan kita. Kemudian, ia menunjukkan kita jalan menuju kebahagiaan itu sendiri. Ternyata tidak sesulit dan serumit yang kita bayangkan sebelumnya.

Ia menuliskan gagasannya dengan bahasa sederhana, lugas, dan populer sehingga memudahkan pembaca mencerna setiap mutiara kehidupan yang disharingkannya. Contoh-contoh yang menyertai setiap paparan begitu dekat dengan kehidupan kita karena memang berangkat dari kenyataan di lapangan. Beragamnya kisah-kisah penuh hikmah di dalamnya memperkaya asupan gizi bagi batin kita, jiwa kita yang gersang di tengah arus hedonis-materialis.

Banyak Cara Menuju Bahagia

Banyak jalan menuju Roma. Pun, banyak cara menuju bahagia. Setidaknya ada lima jurus ampuh yang ditawarkan kepada pembaca untuk dicoba. Dilengkapi dengan latihan-latihan di akhir setiap jurus memudahkan pembaca dalam mempraktekkannya. Kelima jurus tersebut adalah bersyukur, banyak memberi, cinta sesama, tersenyum dan senang memaafkan.

Dengan bersyukur, Allah akan menambah nikmat kita. Maka, penulis yang juga Vice President sebuah perusahaan besar di Indonesia ini menambahkan kata aktif di belakang kata syukur. Artinya, bersyukur tidak hanya berhenti pada tataran ucapan melainkan diteruskan pada tindakan aktif. Contoh sederhana ketika kita diterima bekerja di tempat yang kita idam-idamkan maka syukur aktif kita adalah bekerja dengan sungguh-sungguh agar perusahaan tempat kita bekerja tersebut untung sehingga banyak membantu orang. (hal 63)

Jurus kedua, banyak memberi. Sekali lagi, tindakan aktif. Di sini, penulis memberi ilustri yang cukup menarik bahwa ketika kita memberi pada dasarnya kita telah membuka ruang untuk masuknya sesuatu yang baru. Namun ia juga mengingatkan agar kita memberi lalu lupakan. Hal ini bertujuan agar kita tidak menghitung-hitung kebaikan yang telah kita lakukan karena belum tentu apa-apa yang sudah kita lakukan itu diterimaNya. Allah tidak akan tidur dan lupa meski yang telah kita lakukan itu hal yang sangat kecil sekalipun.

Jurus selanjutnya adalah mencintai sesama, tersenyum, dan senang memaafkan. Ketiganya adalah jurus ampuh dalam menjalankan fungsi kita sebagai makhluk sosial. Bukankah kita akan bahagia jika mampu mencintai sesama?

Kalau kita jeli ternyata jurus-jurus tersebut merupakan muara dari kebesaran jiwa. Tidak perlu harta membeli kebahagiaan. Tidak perlu menunggu kaya untuk bahagia. Cukup buka hati dan lapang dada untuk mempraktekkan kelima jurus tersebut. Sesungguhnya kelima jurus di atas adalah perwujudan hablumminallah dan hablumminannas kita. Bagaimana kita memaknai syukur yang sesungguhnya. Bagaimana kita mengelola emosi kita ketika bersosialisasi dengan sesama agar setiap aktifitas yang kita lakukan memendarkan energi positif tidak saja kepada diri pribadi melainkan juga lingkungan di sekitar kita. Dengan kata lain, kelima jurus di atas adalah jalan ruhani menuju kesalehan pribadi dan kesalehan sosial. Selamat berburu kebahagiaan!

Hernawati Kusumaningrum

Guru SMP Al Hikmah Surabaya

« Entri lama