Pintu-Pintu Menuju Bahagia

Resensi pada Rubrik “Buku” Majalah MATAN, Oktober 2008

Cover Majalah MATAN

Cover Majalah MATAN

Suatu hari seorang eksekutif muda yang tinggal di kota besar sedang berlibur ke suatu desa yang tenang dan damai. Dia hendak melupakan panas, macet dan hiruk-pikuk kota yang sehari-hari menemaninya. Salah satu kegiatan yang dilakukan untuk mengisi liburannya adalah memancing di danau yang ada di pinggirandesa itu.

Di samping eksekutif muda itu, ada seorang penduduk desa yang juga sedang memancing. Sambil memancing, eksekutif muda itu ngobrol dengan penduduk desa tersebut.

“Berapa ikan yang biasanya Bapak dapat tiap hari?” orang kota itu mengawali obrolan.

“Tidak banyak Mas, empat sampai lima ekor sudah cukup, “ jawab penduduk desa itu.

Kok sedikit sekali, Pak. Bukankah danau ini banyak ikannya?”.

“Saya memang memancing hanya untuk kebutuhan makan keluarga saya Mas.”

“Lho, mengapa Bapak tidak ingin mendapat ikan lebih banyak, kan sisa dari yang dimakan bisa Bapak jual? Dan uangnya bisa Bapak tabung?”

“Menabung? Untuk apa Mas?”

“Ya, nanti kalo tabungan Bapak sudah cukup banyak, Bapak bisa gunakan apa saja. Bapak bisa melakukan kegiatan-kegiatan yang Bapak suka. Berlibur misalnya.”

Penduduk desa itu terdiam mendengar penjelasan eksekutif muda.

“Bapak lihat saya sekarang. Saya bisa berlibur, bersantai, bersenang-senang, menikmati suasana desa, dan memancing di sini. Saya bisa melakukan itu semua karena saya punya uang banyak,” lanjut eksekutif muda itu.

“Mas, kalo hanya yang seperti ini mah saya sudah melakukannya setiap hari, walaupun saya nggak punya uang banyak.”

Tidaklah berlebihan bila kisah di atas dijadikan sebagai pembuka buku ini untuk menggali arti dan makna bahagia. Rasa bahagia memang telah menjadi keinginan absolut setiap individu. Meski untuk itu, mereka harus mengorbankan be­berapa hal yang diyakini sebagai prasyarat untuk menggapai kebahagiaan itu.

Eksekutif muda pada kisah di atas, misalnya, bekerja keras setiap hari, untuk mencari uang sebanyak mungkin. Sebaliknya, penduduk desa itu mampu bersantai menikmati kehidupan sepanjang hari meski tanpa bergelimang uang.

Dari dua orang itu, siapakah yang patut diikuti agar bahagia? Patut disayangkan jila masih banyak orang yang keliru dalam memaknai kebahagiaan. Banyak orang tua yang tersesat dalam memberi makna kebahagiaan bagi anak-anaknya, yakni bahwa kebahagiaan hanya terwujud karena kekayaan materi, pangkat dan jabatan, atau popularitas.

Rubrik "Buku" MATAN

Rubrik "Buku" MATAN

Buku karya Awang Surya ini memberikan resep untuk menggapai kebahagiaan dengan tanpa menunggu kaya. Menurut Awang, sangat banyak pintu kebahagiaan yang bisa dimasuki oleh setiap pribadi dengan tanpa bermodalkan hal-hal yang bersifat material.

Paling tidak ada 5 cara. Pertama, se­lalu mensyukuri setiap sesuatu yang telah diterima. Kedua, mengaktifkan kemauan un­tuk memberi, selaras dengan pepatah ‘siapa yang menabur pasti menuai’. Ketiga, cin­tailah sesama, karena cinta adalah energi penggerak dari semua aktivitas manusia.

Keempat, tersenyum­lah, karena menurut hadits “senyumanmu di hadapan saudaramu adalah sedekah“. Dan kelima, jadilah pemaaf. Karena, “hanya orang kuat yang mampu memaafkan orang lain,” kata Mahatma Gandhi.

Buku ini memang menarik karena menawarkan jalan baru untuk merentas kebahagiaan. Melalui buku ini, Awang Surya hendak menyampaikan pesan tentang bagaimana kita mampu mengelola hidup, emosi, serta pikiran melalui berbagai jurus, agar hidup ini menjadi bahagia, dengan tanpa harus menunggu kaya. Karena itu, siapa pun yang ingin menghimpun sebagian pintu-pintu menuju bahagia, tidak berlebihan bila dikatakan bahwa buku ini merupakan salah satu referensi penting yang harus dimiliki.

Abdurrahman Mantan Ketua PC IMM Gresik

Tinggalkan Balasan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.